Mencatur kesenian di langit Jepara

Mencatur kesenian di langit Jepara. (darah seni orang2 Jepara)

Oleh Pak Brodin.

Pernyataan menarik dari seorang Nano Warsono,salah satu duta kesenian Jepara yang aktif menyuarakan knowledge ke-Jepara-an ke seluruh dunia. “Ada semacam trah seni dalam darah anak-anak Jepara”

Mari kita uji dan renungkan bersama, benarkah pernyataan yang bernuansa do’a agar seluruh masyarakat Jepara berinstropeksi diri, mengevaluasi segala yang telah terjadi dan menentukan langkah membangun Jepara yang sesungguhnya dan sesungguh- sungguhnya Jepara ini memang relevan untuk kita perbincangkan?

Branding Jepara Kota Ukir (kayu) meski hal itu adalah sepenggal tafsir atas usaha- usaha kreatif dan intelektual Kartini di awal abad 20 harus kita syukuri. Setidaknya hal ini pun memberi nilai positif bagi Jepara pada khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya. Akan tetapi jika kita cermat dan telaten membaca Kartini secara utuh niscaya kita akan menemukan Jepara yang lebih besar dari sekedar Kota Ukir. Hari ini kita lagi lagi bersyukur karena pembacaan Kartini yang lebih komprehensif telah dilakukan banyak pihak, salah satunya adalah Rumah Kartini. Yang pada intinya adalah bahwa dalam usia muda dan hidup yg singkat Kartini berhasil membuka perspektif kita akan membangun bangsa dan masyarakat ini dari sudut pandang geocultural. Hal ini sejalan dengan pandangan Andrew Gyorgy yang menyatakan bahwa
” setiap bangsa memiliki konsepsi ruang, yakni ide tentang batas batas kekuatan teritorialnya. Hancurnya sebuah bangsa merupakan hasil dari menurunnya dan diabaikannya konsepai tentangruang itu” (Andre Donas. Luar Kotak).

Dalam konteks kesadaran ruang itu pula Anzieb, duta kita yang lain mencoba menekuni kajian- kajian manuskrip maupun spiritual dalam usahanya menafsir ulang dan mendekonstruksi wacana historis Ratu kalinyamat, yang menurutnya penuh dengan diatorsi dan kepentingan politik untuk mendiskreditkan Mbah Ratu. Kembali lagi dengan rasa syukur kita tunggu bersama karya- karya knowledge dalam berbagai kuratorialnya di berbagai kesempatan pameran Seni Rupa yg memang menjadi perhatiannya.

Nano Warsono, Anzieb, Apeep Qimo dan pelaku kesenian lain sedang menyusun kepingan teka teki Imaginasi Geografis untuk mendasari dan memberi arah bagi pembangunan Jepara menjadi Kota Seni, kita semua juga bersama- sama bahu membahu melakukan kerja kreatif sesuai bidang masing masing, berkolaborasi, melakukan “treatment”( perawatan), pendampingan pada pelaku seni, merayakannya dalam dalam tulisan, medsos, pertunjukan, pidato, film dan pendokumentasian yg baik agar statement di awal tulisan ini terbukti.

Hampir dua puluhan tahun yang lalu dalam jagongan santai dengan seniman- seniman luar Jepara yg hadir dalam acara Transmisi Budaya waktu itu sepakat bahwa Jepara secara geocultural memiliki energi positif yang dahsyat bagi spirit penciptaan karya seni.

Lir ilir. .lir.. Ilir …….. Tandure wis sumilir
Tak ijo royo royo ….. Tak sengguh temanten anyar ……… Cah angoon. ……… Cah angooon ……. Penekno blimbing kuwi ….. Lunyu …… Lunyu ……. Penekno kanggo mbasuh dodot iro …………

Pertama kali dipublikasi tanggal 3 Juli 2018 di Facebook

Leave a comment