Catatan Ekspedisi 200 Tahun Karimunjawa; Ds. Telaga dalam Perspektif Pendidikan

Catatan Ekspedisi 200 Tahun Karimunjawa; Awal Mula Ds. Telaga dalam Perspektif Pendidikan

Oleh Rusdiyan Yazid / Foto oleh Ulin – Tim Ekspedisi bersama Pak Syaichuddin dan Bang Jack

Anak pulau tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, karena jika sudah sarjana mereka tak akan kembali ke Pulaunya.”

Begitulah kira-kira satu kalimat yang diucapkan oleh sesepuh dari Telaga, Kemojan, Karimunjawa. Bermula dari obrolan kami tentang awal  mula sejarah  masyarakat Dusun Telaga, terutama masyarakat Bugis dan Madura.

Dikisahkan, anak dari H. Muhamad Amin yang bernama Abdul Ghani berlayar dan sampailah di Karimunjawa. Ketika pulang ke Masalembu, disampaikanlah pada ayahnya. Singkat cerita, H. Muhamad Amin berangkat dengan 7 orang menuju Karimunjawa, dari sinilah awal peradaban di Dusun Telaga.

Kisah-kisah berlanjut, tentang bagaimana masyarakat Ds. Telaga memiliki nilai-nilai luhur dalam kehidupan. Tidak hanya sekedar pandai bercocok tanam, berternak, namun juga pandai dalam arsitektur baik rumah maupun kapal. Dikisahkan ketika pertama kali memutuskan tinggal di Dukuh Telaga, H. Muhamad Amin pada tahun 1949 menghubungi menteri polisi Kec. Mlonggo, Jepara – Saat itu Karimunjawa masuk wilayah Kec. Mlonggo – untuk meminta izin membuka lahan dan mengelola sebagian besar tanah di Dukuh Telaga.

Setelah diizinkan, H. Muhamad Amin mengirim kembali masyarakat dari Masalembu – Sumenep, Jawa Timur / Kep. Madura. Mereka juga membawa bibit tanaman dan ternak. Termasuk Sapi merah dari Madura untuk membajak sawah dan Kuda untuk mengangkut hasil bumi. Dari saat itu dimulailah pembangunan peradaban baru di Dusun Telaga. Menurut cerita, sudah banyak yang mencoba membuka dan mengolah lahan di Dusun Telaga, namun tidak pernah bertahan lama. Kondisi tersebut disebabkan karena hama dan wabah penyakit. Karena itu, meski lahan sudah pernah terbuka, namun tantangan yang dihadapi masyarakat Ds. Telaga saat itu tidaklah mudah. Pembukaan lahan tidak dilakukan sedikit demi sedikit seperti orang-orang yang sebelumnya membuka lahan, namun langsung dilakukan secara luas. Karena itulah banyak masyarakat didatangkan dari Masalembu. Dikisahkan juga untuk menebang satu pohon dibutuhkan waktu satu minggu karena ukuran pohon yang begitu besar.

Dari sinilah peran  H. Muhamad Amin sebagai sesepuh sangat penting dalam mengatur dan memutuskan segala sesuatu secara bijak untuk kebaikan kehidupan masyarakat. Beberapa hal utama yang dibangun dan dipersiapkan adalah pembukaan lahan, pembangunan tempat tinggal, menyediakan lahan masjid, dan lahan sekolah. Pendidikan menjadi salah satu instrumen  penting di awal pembangunan masyarakat Ds. Telaga di Kemojan, Karimunjawa. Bersama instrumen pangan, rumah dan peribadatan. Dusun Telaga pertama kali yang merintis sekolah di  Kemojan, sekitar tahun 1960an.

Dikisahkan anak-anak Ds. Telaga di Kemojan dahulu selalu dilibatkan dalam setiap proses panen hasil bumi dan laut. Anak-anak dikenalkan, diajarkan, dan kemudian ikut terlibat didalamnya. Seperti halnya pendidikan yang dilakukan oleh nenek moyang kita yang dahulu. Pendidikan yang diberikan adalah keterampilan untuk bertahan hidup. Seperti bertani,mencari ikan, dan membuat peralatan, perkakas, hingga kapal dan rumah. Tentu saja pendidikan diberikan sesuai dengan usia dan kemampuan.

Gotong Royong Pindah Rumah - Foto oleh Opick_BungaJabe
Mappalettek BolaFoto oleh Opick_BungaJabe

 

Selain keterampilan, pendidikan juga mencakup cara-cara bersosial, etika, tata cara hukum, dan tata kelola masyarakat. Anak-anak tidak hanya dididik tapi juga dibentuk menjadi pribadi yang memiliki daya juang dan berkarakter. Masyarakat terutama orang tua berperan penting dalam pendidikan anak, melalui contoh, tauladan dan nasihat. Ketika anak-anak tumbuh menjadi dewasa, mereka begitu hormat kepada orang tua. Kebersamaan dan gotong royong masyarakat Dusun Telaga melatih kerja sama dan menumbuhkan rasa saling menghargai satu sama lain. Seyogyanya nilai-nilai luhur ini yang diturunkan pada anak cucu.

Karena perkembangan zaman dan modernisasi, hari ini anak-anak sudah mudah mendapatkan pendidikan dari sekolah-sekolah baik di Kemojan, Karimunjawa, Pulau Parang, maupun di Jepara, bahkan hingga ke luar Kab. Jepara. Namun, semakin tinggi sekolah anak-anak pulau ini, semakin sedikit mereka yang kembali ke Pulau untuk bekerja atau membangun kampung halamannya. Mereka banyak bekerja di kota-kota besar.

Di satu sisi, melihat pariwisata yang sedang berkembang di Kep. Karimunjawa, khususnya Kemojan. Kehadiran dan peran serta putra terbaik dari daerahlah yang diharapkan mampu mendorong kemajuan dan kesejahteraan bagi masyarakat Karimunjawa. Ada harapan dari para sesepuh Karimunjawa, agar kebanggaan, cinta, dan rasa memiliki kampung halamannya juga bisa diwujudkan dalam pembangunan pariwisata sekaligus melestarikan dan mengembangkan nilai-nilai luhur kebudayaan yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Anak pulau boleh sekolah setinggi langit, namun tak ada tempat yang lebih baik dari kampung halamannya sendiri.

Leave a comment